
TREN mengonsumsi makanan organik memang mulai meningkat seiring dengan kesadaran akan betapa pentingnya faktor makanan bagi kesehatan. Sebagian masyarakat bahkan rela mengeluarkan bujet lebih besar demi mendapat buah-buahan atau sayuran organik yang di Tanah Air relatif masih terbilang lebih mahal ketimbang jenis biasa.
Mengonsumsi makanan organik secara konsisten diyakini dapat menjadi upaya mempertahankan diri dari ancaman beragam penyakit. Makanan organik dinilai sehat karena pada saat proses penanaman sampai panen tidak mengalami proses kimiawi atau menggunakan bahan sintetik, seperti pestisida, herbisida, pupuk dengan kandungan kimia, penyuntikan hormon atau antibiotik, serta prosesnya tanpa radiasi ionisasi maupun pemodifikasian genetik. Karena itu, proses yang natural tersebut aman untuk dikonsumsi oleh tubuh.
Meskipun menyehatkan, sebenarnya tak semua makanan organik menguntungkan. Ada beberapa mitos seputar makanan organik yang harus diluruskan. Dengan memahaminya, Anda dapat menggunakan makanan organik dengan tepat.
1. Organik selalu aman dan baik bagi lingkungan?
Organik memang ditanam di tanah yang tidak terkontaminasi kandungan kimia atau disiram dengan pestisida dan jenis zat kimia lain seperti halnya lahan pertanian biasa. Namun begitu, sejak lahan pertanian organik hanya memproduksi setengah dari produksi pertanian konvensional, penanaman organik menjadi memboroskan lahan dalam penanaman buah dan sayuran.
Dennis Avery dari Hudson Institute's Center for Global Food Issues memperkirakan pertanian sistem modern menghemat hingga 15 juta meter persegi pembukaan hutan dan habitat binatang liar. Jika seluruh dunia harus memilih penanaman organik, kita harus mengorbankan hutan hingga 10 juta mil persegi hutan.
2. Organik lebih banyak mengandung nutrisi?
Berbagai studi mengenai makanan organik selalu tidak konsisten. Ada yang menyebut kandungan vitamin C dalam tomat organik lebih ketimbang tomat biasa; ada juga yang menemukan kadar anti-kanker flavonoids pada jagung dan strawberi organik. Namun riset lainnya menyebutkan bahwa makanan organik tidak memiliki keunggulan lebih dalam hal kandungan nutrisi. Apa yang membuat perbedaan mencolok dalam hal kandungan nutrisinya adalah berapa lama ditanam dan disimpan di rak makanan. Bayam misalnya, bisa kehilangan setengah dari kadar foliatnya dalam selang waktu sepekan.
3. Organik lebih enak rasanya?
Tak ada yang bisa mengungkapkannya kecuali dalam sebuah penelitian tentang apel, di mana yang jenis organik memang lebih unggul. Untuk memeroleh raspberries yang rasanya lebih alami atau asam-manis, Anda harus membelinya di tempat buah itu ditanam, pada musimnya dan tidak disimpan dalam jangka waktu lama. Kenyataannya, buah atau sayuran tidak akan lagi dalam kondisi terbaiknya bila sudah melewati penerbangan yang lama atau melewati proses pelapisan. Belum lagi bila harus tersimpan selama seminggu di pasar atau toko.
4. Tak perlu dicuci terlalu bersih seperti makanan biasa.
Seluruh produk organik, apakah dibeli dari toko grosir atau petani lokal di dekat rumah Anda, tetap rawan akan kontaminasi bakteri seperti E. coli. Tanah dan sumber pengairan yang terkontaminasi E. coli bisa menempel dan masuk dalam buah atau sayur. Melon, selada, tauge, tomat, bayam, daun bawang, bisa tercemar ketik mereka tumbuh dan dekat dengan tanah. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah: Cuci semua produk dengan air yang mengalir.
5. Memakai organik = membantu petani kecil atau perusahaan ramah lingkungan?
Perusahaan-perusahaan raksasa di AS justru berbisnis di sektor organik. General Mills memiliki Cascadian Farms, Kraft berada di belakang Back to Nature dan Boca Burger. Kellogg's memiliki Morningstar Farms. Tingginya permintaan membuat perusahaan-perusahaan ini mengimpor bahan-bahan organik semurah mungkin dari negara lain. Meski nilai penjualan produk makanan organik di AS melonjak hingga miliaran dollar AS, ironisnya hanya sekitar 16 persen saja yang ditanam di lahan lokal. Dengan CO2 yang dihasilkan dari transportasi, keramahan produk organik bagi lingkungan menjadi dipertanyakan.
6. Organik lebih sehat buat Anda?
Makanan organik tidak lagi menyehatkan bila bentuknya sudah menjadi kripik organik, soda organik atau kue organik. Gula dari tebu organik juga tetaplah gula, keripik dari kentang organik juga tetaplah digoreng.
Editor: acandra
Sumber : WebMD
taken from http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/12/07/10041055/6.mitos.makanan.organik
Jumat, 11 Desember 2009
6 Mitos Makanan Organik
Diposting oleh yenisuminar di 14.02 0 komentar
Label: Kesehatan
Efek terlalu sering makan Junk Food
Junk food adalah kata ’slang’ untuk makanan dengan kandungan nutrisi yang rendah. Biasanya junk food ini mengandung kadar garam, gula, lemak atau kalori yang tinggi, tetapi renda nutrisinya rendah vitamin, mineral dan juga serat). Harganya biasanya lebih murah daripada makanan yang sehat, dan rasanya lebih enak (tetapi tidak sehat).
Beberapa contoh junk food adalah snack yang diberi tambahan garam, permen, permen karet, dessert yang manis manis, burger, fried chicken, minuman kaleng dan sebagainya. -Snack, biskuit dan kue kue manis,
mengandung terlalu banyak gula dan sedikit vitamin-mineral.
-Minuman Cola,
mengandung banyak gula dan beberapa nutrisi, mengandung kafein (dapat memicu susunan saraf pusat, merangsang kerja jantung) dan zat adiktif, yang tidak baik bagi tubuh.
-Ice cream, mengandung banyak nutrisi, tetapi penuh gula dan lemak.
-Minuman buah buatan, mengandung gula dan air, dengan zat rasa buatan
dan zat pewarna. Biasanya hanya sedikit sekali kandungan jus buah aslinya.
-Kentang goreng. Walaupun terbuat dari kentang, tetapi digoreng dan diberi garam, sehingga mengandung banyak lemak dan tinggi garam.
Efeknya untuk kesehatan:
-junk food yang mengandung banyak gula, dapat merusak gigi dan menyebabkan terjadinya kavitas (gigi berlubang).
-terlalu sering makan makanan yang banyak gula, membuat kadar insulin dalam tubuh tidak stabil, dan memicu terjadinya penyakit Diabetes Melitus / kencing manis di kemudian hari
-junk food menyebabkan terjadinya obesitas (kegemukan) karena nilai kalori yang tinggi. Obesitas akan meningkatkan resiko terjadinya penyakit Diabetes Melitus/ kencing manis, penyakit jantung, pembuluh
darah, stroke dan menyebabkan masalah sosial - psikologis.
-penelitian terbaru menyatakan bahwa junk food dapat meningkatkan kejadian asma pada anak-anak
-makan makanan tinggi lemak (terutama lemak jahat yang terdapat dalam junk food) dapat meningkatkan kadar lemak dalam darah, dan meningkatkan resiko untuk terjadinya aterosklerosis (penyumbatan
pembuluh darah oleh plak lemak), penyakit hipertensi/tekanan darah tinggi, jantung dan kanker di kemudian hari.
-terlalu banyak garam dapat memicu terjadinya penyakit hipertensi/tekanan darah tinggi di masa yang akan datang
-pengawet, pewarna, dapat merusak persarafan, meningkatkan faktor resiko terjadinya kanker, dan juga dapat membuat anak menjadi hiperaktif.
-pernyataan berikut masih kontraversial, tapi perlulah untuk berhati hati : makanan yang mengandung MSG (mono sodium glutamat)/ zat penyedap rasa (biasanya ada dalam junk food), dapat memberikan efek
samping : kemerahan pada kulit, sakit kepala, mual-muntah, gejala asma, sesak napas, gangguan mood, migren, serangan panik, jantung berdebar, kejang, atau depresi. Efek jangka panjangnya adalah merusak
otak, susunan saraf, retina, sehingga dapat menyebabkan banyakpenyakit di kemudian hari.
-sedang dalam penelitian, bahwa zat fosfor yang terdapat dalam minuman bersoda dapat meningkatkan resiko terjadinya batu ginjal
-karena junk food mengandung sedikit nutrisi, maka tubuh akan
kekurangan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berfungsi dengan baik, dan akan kekurangan antioksidan untuk melawan terjadinya penyakit kanker
-hormon, antibiotik yang dapat terkandung dalam daging junk food, dapat mengganggu keseimbangan kesehatan tubuh, sistem reproduksi, bahkan dapat menyebabkan kanker.
Beberapa TIPS untuk menghindari junk food:
DARIPADA >>> COBALAH
- Ice cream >>>> yoghurt nonfat,sorbet atau sherbet
- Minuman kaleng >>>> air putih, jus buah, air jeruk nipis
- Donat, kue manis >>>> roti gandum dengan selai buah asli
- Sereal berlapis gula >>>> sereal gandum atau berlapis gula coklat
- Kentang goreng >>>> mash potato, kentang rebus
- Sup krim instant >>>> sup bening (yang dimasak di dapur)
- Makanan kaleng >>>> makanan segar
- Fried chicken >>>> ayam kampung tim
- Burger >>>> tahu, tempe
http://umum.kompasiana.com/2009/01/01/tanya-jawab-dr-sonia-wibisono-junk-food
Diposting oleh yenisuminar di 12.40 0 komentar
Label: Kesehatan
